Sajak ada hukum puisi
sehebat-hebat masalah hukum
yang terdakwanya tak bisa dihukum
sehebat-hebat terdakwa
yang tak bisa diperiksa
sehebat-hebat periksa
membaca puisi sambil tertawa
sehebat-hebat yang kubaca ini
jangan pernah dianggap puisi
Pada awal-awal dulu sebenarnya aku ragu, apakah tulisanku itu bisa disebut puisi?
Namun dengan berjalannya waktu, aku kemudian abai dengan keagungan kaidah puisi. Karena setelah kurenungkan, aku menulis puisi bukan bermaksud menjadi penyair. Namun lebih karena kebutuhanku untuk sekadarkan mengabarkan berita.
Aku ingin berkomunikasi. Hanya ingin berdiskusi. Ingin berdialog dengan sebanyak mungkin orang tentang permasalahan yang melanda. Berusaha untuk saling mengingatkan atau sekadar memberi isyarat dan pertanda.
Maka sejak itu aku tak peduli dengan penilaian apakah layak disebut puisi, atau sekadar celetukan yang tak berarti. Karena bagiku, yang penting apa yang tak boleh kugambar bisa kusampaikan dengan tulisan, untuk kemudian dibacakan.
Maka aku pun semakin banyak saja menuliskan sajak-sajak bodoh dan sederhana itu.
Namun meskipun dengan bahasa yang sederhana dan tak perlu membuat kening berkerut, aku tetap menjaganya agar tidak vulgar. Karena puisi-puisiku bukan sekadar sajak protes sosial murni. Jadi selalu kuusahakan tetap mampu memancing senyuman.
Kalimat-kalimatnya selalu kubuat segar dan jernih. Syukur-syukur cerdas. Dengan dibalut metafor yang penuh guyonan dan humor. Namun bukan sekadar lelucon. Karena diharapkan mampu menjadi senjata ampuh untuk melakukan perubahan.
Persis seperti guyonan para punakawan dalam mengkritik Pandawa, begitulah resep kartun yang kudapatkan dari GM Sudarta. Awalnya lebih membuat ger-geran saja. Membuat tertawa riuh dengan tepuk sorak para penonton penikmatnya.
Namun meski penuh canda tawa, aku yakin sajakkartunku tetap bisa sampai dan penuh makna.
Dan meskipun sajakkartun itu berbentuk teks literer, aku masih menganggap diriku tetaplah seorang kartunis. Bukan penyair.
Bagiku, sajak itu tak lebih dari sebuah media. Sementara materinya sendiri, sesungguhnya tetaplah kartun. Tempat di mana aku merasa bisa bebas berbisik dan berteriak dalam suasana canda tawa. Agar kenyataan-kenyataan menyakitkan yang membanjir di sekitar kita bisa diterima secara ringan dan renyah. Dan tidak cenderung menyalahkan siapa pun, kecuali diri sendiri.
Dengan sajakkartun, aku hanya ingin mengajak kita semua arif untuk berani menertawakan diri sendiri. Karena konon orang yang cerdas dan bijak adalah yang mampu menertawakan dirinya, dan rela menerima kelemahannya sendiri. Siapa pun dia!
Dalam kebimbangan apakah sajakkartunku masih layak disebut puisi atau tidak, aku menemukan buku ‘Dongeng dari Negeri Sembako’ karya Acep Zamzam Noor. Membaca larik-larik puisi penyair besar Tasikmalaya, yang konyol kocak dan sarat kritik itu, semakin memantapkanku untuk menekuni sajakkartun.
Bahwa ternyata, seorang maestro macam Acep pun menulis sajak macam itu. Maka makin semangatlah aku menulis sajak bloon. Bahkan ada beberapa sajaknya yang aku ambil sebagai awalan, untuk kemudian kuteruskan menjadi satu kesatuan.
Contohnya adalah yang ini.
Sajak ada banyak partai
membentuk partai baru
semudah mengganti baju
karena banyak rakyat yang suka berjoget
seorang vokalis mendirikan PUDI
Partai Uni Dangdut Indonesia
masyarakat yang menganggap protes dan unjukrasa
sebagai obat mujarab untuk menghilangkan pusing
ramairamai mencoblos PDIP
Partai Demonstrasi Itu Penting
para bujang yang berjenggot
ada baiknya mendirikan partai bughot
partai bujang berjenggot
para bujangan yang selalu raguragu
perlu membentuk partai lelaki tak lakulaku
para bujangan yang bosan ditolak melulu
sibuk membentuk partai kasihan deh lu
para gadis yang malumalu
segera mendirikan partai setia menunggu
dengan slogan jomblo pasti berlalu
para gadis yang bosan jenuh menunggu
sepakat berserikat dalam partai manajemen qalbu
bervisi mengobati kebatkebit hatiku
para gadis yang suka kartunis necis
silahkan mendukungku mendirikan PKS
partai kartunis sejahtera
dengan banyaknya bencana
terbuka peluang untuk membentuk partai tandingan
PKB, partai korban bencana
PDIP, partai derita Indonesia perjuangan
PBB, partai banjir banding
PAN, partai amat nelangsa
Partai GOLKAR, partai golongan tuna karya
PKS, partai korban sunami
Indonesia sebenarnya tidak memerlukan banyak partai
karena sudah terlalu banyak memiliki partai
ada partai sanur, partai kuta, partai pangandaran,
partai parangtritis, dan masih banyak yang lainnya
Dan karena keasyikan itu, membuatku semakin abai dengan penilaian apakah sajak bloon ini layak atau tidak disebut puisi.
Aku benar-benar tak lagi peduli, wong aku juga tak bermaksud ingin menjadi penyair. Aku tetap seorang kartunis, yang tidak sedang menggambar menggunakan goresan, tapi tengah beralih senjata menggunakan tulisan.
Maka seolah mengikut Seno Gumira Ajidarma yang berstrategi ‘ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara’, demikian pula denganku.
Aku mengamini jurus liukan bambu itu dengan ‘ketika kartun politik dibungkam, sajak bloon harus bicara’.