Alkisah, ada ancaman besar yang datang melanda penduduk Padukuhan Kalibacin dan Mbogem.
Ancaman datang dari Kerajaan Nguras Segara yang terkenal akan menyerang wilayah mana saja yang mempunyai sumber mata air.
Kerajaan Nguras Segara adalah kerajaan yang rakyatnya terkenal sangat haus dan rakus akan air. Hingga selalu memperluas wilayah jajahan ke seluruh penjuru. Dengan tujuan menguasai sumber mata air sebanyak-banyaknya.
Padukuhan Kalibacin dan Mbogem mendapat ancaman itu. Karena dua padukuhan itu mempunyai dua sumber mata air. Yaitu mata air Kalimambu Lanang dan Kalimambu Wadon.
Kalau mata air Kalimambu direbut, maka kekeringan akan melanda kedua padukuhan itu.
Dengan niat mempertahankan diri, Ki Buyut Kalibacin, sebagai pemimpin padukuhan Kalibacin, berusaha menggalang kekuatan penduduk dua padukuhan itu.
Caranya adalah dengan menjalin kekeluargaan dengan padukuhan Mbogem.
Ki Buyut Kalibacin ingin menikahkan anaknya dengan anak Ki Ageng Mbogem, pemimpin Padukuhan Mbogem.
Pernikahan itu menjadi tanda persatuan dua padukuhan.
Maka, datanglah Ki Buyut Kalibacin ke Padepokan Bale Pustaka, menemui sosok begawan cendekia yang bijaksana, bermama Ki Gede Sastra Wijaya.

Ki Buyut Kalibacin menyampaikan kabar ancaman yang datang dari Kerajaan Nguras Segara. Serta niatnya untuk melakukan perlawanan.
Ki Gede Sastra Wijaya menyetujui rencana itu. Ia kemudian mengutus dua orang kepercayaannya. Ki Ajar Sentul dan Nyai Kemit, untuk mengundang Ki Ageng Mbogem ke Padepokan Bale Pustaka.
Setelah Ki Ageng Mbogem datang, mereka kemudian membahas pernikahan anak-anak mereka.
Setelah disampaikan maksud dan tujuannya, Ki Ageng Mbogem menyatakan persetujuannya.
Ki Ageng Mbogem juga sudah mendengar ancaman itu. Hingga ia pun menyetujui rencana lamaran pernikahan dari Ki Buyut Kalibacin.
Akhirnya, disepakati rencana itu. Ki Gede Sastra Wijaya siap menjadi penghulu untuk menikahkan.
Akan tetapi, kedua anak mereka sedang sama-sama belajar di padepokan.
Anak laki-laki Ki Buyut Kalibacin, Bagus Tirta Husada, sedang belajar di Padepokan Ganda Jalu. Sedangkan anak perempuan Ki Ageng Mbogem, Dewi Toya Sari, sedang belajar di Padepokan Ganda Pawestri.
Jadi, keduanya harus dijemput terlebih dulu.
Ki Gede Sastra Wijaya mengusulkan hari lamaran sekaligus hari pernikahan mereka.
Setelah disepakati, kedua orang tua itu akan diberangkatkan untuk menjemput kedua anaknya masing-masing.
Setelah dijemput dari padepokannya, kedua mempelai akan dinikahkan di Padepokan Bale Pustaka.
Sebagai bentuk dukungan, seluruh biaya perayaan pernikahan akan ditanggung oleh Ki Gede Sastra Wijaya.
Demi menjaga keamanan, khawatir akan diserang tiba-tiba oleh pasukan Kerajaan Nguras Segara, Ki Gede Sastra Wijaya meminta bantuan adiknya, Senopati Siduda.
Paguron Senopati Siduda adalah tempat berlatihnya para pendekar di bawah asuhan sepasang pendekar kembar, Panembahan Kembang Soka dan Panembahan Sokasari.
Diutuslah Ki Ajar Sentul dan Nyi Kemit untuk mengirim surat permohonan bantuan.
Permintaan bantuan diterima oleh Paguron Senopati Siduda.
Senopati Siduda memberangkatkan dua pasukan utamanya yang bernama Bregada Sapta Rasa dan Bergada Sapta Sukma.
Bregada Sapta Rasa dipimpin oleh Panembahan Kembang Soka. Bregada Sapta Sukma dipimpin oleh Panembahan Soka Sari.
Ki Gede Sastra Wijaya menyambut kedua pasukan bimbingan adiknya dengan bahagia. Kemudian membagi tugas kepada mereka.
Bregada Sapta Rasa mengawal rombongan Ki Buyut Kalibacin menjemput Bagus Tirta Husada dari Padepokan Lepen Ganda Jalu.
Bregada Sapsa Sukma mengawal rombongan Ki Ageng Mbogem menjemput Dewi Toya Sari dari Padepokan Lepen Ganda Pawestri.
Ki Gede Sastra Wijaya melepas keberangkatan mereka dengan doa.
Ki Buyut Kalibacin menjemput anaknya dengan diiringkan penduduk padukuhan Kalibacin. Begitu juga dengan Ki Ageng Mbogem.
Terjadilah iring-iringan penjemputan sepanjang jalan.
Padepokan kedua tempat muda mudi belajar itu berada di tengah hutan Ardi Kendeng.
Jalannya sengaja disembunyikan oleh Ki Gede Sastra Wijaya, sebagai pemilik kedua padepokan itu
Tujuannya agar tidak banyak diketahui orang. Dan, orang yang tengah belajar tidak terpikir untuk pulang sebelum selesai pembelajaran. Karena jalurnya disembunyikan, maka hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengetaui jalannya.
Sebagai penunjuk jalan menuju Padepokan Lepen Ganda Jalu, Ki Gede Sastra Wijaya memercayakan kepada Ki Ajar Sentul untuk mengantar. Sementara petunjuk jalan menuju Padepona Lepen Ganda Pawestri dipercayakan kepada Nyi Kemit.
Singkat cerita, perjalanan telah sampai di tujuan masing-masing. Tanpa halangan apapun. Walau jalan yang ditempuh tidak mudah.
Ki Buyut Kalibacin berhasil menjemput Bagus Tirta Husada. Ki Ageng Mbogem berhasil menjemput Dewi Toya Sari.
Seluruh penduduk dua padukuhan menyambut gembira. Sepanjang jalan mereka merayakan dengan suka cita. Tarian dan nyanyian mengiringi kepulangan mereka.
Akan tetapi, dalam perjalanan menuju Padepokan Bale Pustaka, ancaman datang.
Pasukan Kerajaan Nguras Segara yang dipimpin oleh Senopati Telak Sempal telah menghadang jalan mereka di perbatasan Padukuhan Kedung Bunder.
Tak ayal, terjadilah perang sengit.
Pasukan pendekar Bregada Sapta Rasa dan Sapta Sukma berusaha melindungi.
Peperangan berlangsung seru. Sama-sama kuat.
Sampai kemudian Ki Ajar Sentul menyampaikan usul pada Senopati Siduda. Ia merancang siasat untuk mengalahkan pasukan Kerajaan Nguras Segara.
Prajurit Kerajaan Nguras Segara yang dikenal sifatnya yang haus dan rakus akan air, dipancing agar berperang di tengah Kedung Bunder.
Mereka pasti akan lebih tergoda untuk meminum air yang segar yang ada dalam kolam, daripada berperang.
Akhirnya siasat dilaksanakan.
Senopati Siduda menyuruh Panembahan Kembang Soka memerintahkan Bregada Sapta Rasa terjun ke tengah Kedung Bunder.
Kemudian menangtang Senopati Telak Sempal untuk mengejarnya.
Pasukan Kerajaan Nguras Segara langsung mengejar mereka. Hingga terjadilah perang di tengah kolam besar.
Siasat Ki Ajar Sentul berhasil.
Begitu melihat air jernih yang segar, mereka lupa dengan perangnya. Mereka saling berebut meminum air sebanyak-banyaknya.
Melihat kelengahan itu, dari arah bukit, prajurit Bergada Sapta Sukma yang dipimpin Panembahan Soka Sari menghujani musuhnya dengan panah.
Seluruh prajurit Kerajaan Nguras Segara akhirnya bisa dihabisi. Mati tak tersisa. Termasuk Senopati Telak Sempal.
Dan, mayat mereka itu berubah menjadi capung dom (kinjeng dom). Beterbangan meninggalkan Kedung Bunder.
Dengan begitu, hilanglah ancaman yang membayangi perjalanan mereka.
Perjalanan dilanjutkan menuju Padepokan Bale Pustaka.
Ki Ajar Sentul dan Nyi Kemit kembali menjadi penunjuk jalannya.
Kedua rombongan berjalan dalam satu barisan yang sangat panjang. Sepanjang jalan menyenandungkan nyanyian kebahagiaa.
Sesampai di Padepokan Bale Pustaka, Bagus Tirta Husada dan Dewi Toya Sari dipertemukan. Ki Gede Sastra Wijaya menyambut bahagia. Mereka berdua kemudian dinikahkan.
Pesta digelar sebagai bentuk kesyukuran bersatunya dua padukuhan. Dan dua kekuatan padukuhan.
Persatuan mereka disimbolkan dengan menuangkan air ke dalam gentong Jagad Palakrama.
Dan, peristiwa pernikahan mereka dikenang orang sebagai Panggih Warih []