Kalau Aku Mati, Apa Yang Akan Ditulis Anakku Di Nisanku Nanti

October 13, 2026 ·

Lima belas tahun yang lalu, aku pernah menulis puisi dengan judul yang sangat panjang. “Pernahkah Kau Berpikir Bahwa Hidupmu Tinggal Semenit Lagi?”

Puisi itu hanya berisi satu bait, satu larik, satu kata: “Belum!”

Entah kenapa, bangun pagi ini aku langsung teringat puisi itu. Puisi yang bagi orang lain mungkin tidak bermutu dan seolah sekedar main-main saja. Tapi bagiku, itu adalah puisi ‘pengingat jiwa’. Puisi yang kutulis tepat di malam pergantian tahun baru Hijriyah. Dengan menangis sepenuh pasrah. Puisi yang (bagiku) sangat bersejarah!

Pagi ini, aku bangun sangat pagi. Membuka jendela. Membuka nako. Membuka pintu lebar-lebar, biar udara pagi masuk membawa hawa segar. Rumahku kurang udara. Agak gelap, pengap, jadi aku tak bisa tidur di dalam. Aku tidur di depan yang dekat jendela.

Selepas shubuh, kubuka pintu, melangkah ke luar. Belok kanan ke beranda depan. Dua sriban aku dekatkan, berhadapan. Aku bentuk menjadi ranjang, dan kutidur di atasnya. Kutidur miring, kaki saling menyentuh. Tidak bisa lurus penuh. Aku jadi berpikir, andaikan ranjang yang di gundang dipasang di depan, aku bisa tidur telentang.

Kemudian kupejamkan mata, menghirup udara banyak-banyak. Menghirup dalam-dalam. Dan pagi ini, akan kupuaskan paru-paruku dengan udara pagi yang lembut menyegarkan.

Aku tidur di sriban sebelah selatan. Menghadap  utara. Mata semakin rapat dipejamkan. Kaki ditekuk, tangan kanan menjadi bantal, tangan kiri memegang pinggiran sriban. Kutenangkan, kunyamankan. Namun ternyata tidak pula tenang, tidak juga nyaman.

Perasaan tak tenang yang sejak semalam kupikirkan. Aku masih cemas, masih resah, masih gelisah. Entah kenapa, aku sulit membuang ketakuan masa depan. Dan semalaman membuatku makin susah tidur. Dan sampai pagi, aku masih juga sulit mengendapkan.

Bahkan ketika aku melakukan meditasi seperti yang selama ini kujalani. Menggunakan jari telunjuk untuk mengapungkan mata. Menatap titik di antara dua alis. Telah kulakukan berulang kali, tapi tetap saja sulit tenang. Karena hati tidak tenang, tidur pun tak nyaman.

Apalagi tidur di sriban ini, yang hanya ¾ panjang tubuhku. Aku tidak bisa meluruskan seluruh tubuh. Hanya sebatas lutut. Terpaksa aku tekuk biar semua badan masuk. Jadi hati yang tak tenang, ditambah sriban yang tak panjang, sempurna membuat tidur pagiku tidak nyaman. Memang niatnya tidak tidur. Sekadar tidur-tiduran menghirup udara segar.

Karena tidur pun tak nyaman, aku bangkit. Lalu jalan-jalan di seputar halaman.

Kemudian aku mengetik catatan ini. Sambil kaki naik di sriban depan. Punggung aku sandarkan. Lutut kutekuk agar menjadi tinggi. Laptop kutaruh di atas paha. Mulailah mengetik. Dan kutulis semua yang membuatku tidak nyaman. Membuatku gelisah, resah, dan seluruh perasaan ketakuan yang membuat malam dan pagiku tak tenang.

Semua kutumpahkan agar menjadi nyaman, seolah-olah hari ini adalah hari terakhir hidupku. Hari terakhir aku bisa berdoa dan berharap.

Maka jika hari ini adalah hari penutup hidupku di dunia, apa yang akan kulakukan?

Andai aku mati hari ini, yang kulakukan adalah menyesali diri.

Ya, menyesal. Sangat menyesal, bahkan. Aku telah membuang waktuku dengan percuma. Tiga puluh tahun lebih telah berlalu tanpa sisa. Tanpa jejak. Tanpa kerja yang menghasilkan karya. Tidak ada apa-apa yang bisa dan layak kutinggalkan. Baik warisan untuk keluargaku di dunia, berupa harta atau segala macamnya. Atau pun bekal untukku sendiri di akhirat, berupa amal baik atau segala kerja yang berpahala.

Aku belum mengumpulkan apa-apa untuk bisa kutinggalkan.

Inginku dulu. Kalau mati nanti, ada yang membuat anakku bangga padaku. Bukan kebanggaan pada segudang buku yang kuwariskan padanya. Bukan pada ribuan buku yang telah kubaca. Tapi aku ingin mewariskan seratusan buku yang telah kutuliskan.

Ini masalahnya. Sudah ratusan ,bahkan mungkin ribuan buku kubaca. Namun belum ada satu pun buku yang kutulis. Padahal dari dulu, sejak masih anak kecil hingga sekarang sudah punya dua anak kecil, keinginanku hanya satu. Kalau mati nanti, aku ingin dikenal oleh anak-anakku sebagai seorang penulis. Bukan yang lainnya.

Namun sampai sekarang, aku justru hanya sebagai makhluk pengumpul buku. Seorang yang gila baca. Membaca buku apa saja, yang membuat buku makin menggunung di kamar. Kata-kata dan kalimat hanya menumpuk di otak. Tapi tak satu pun buku ku tulis.

Jadi pagi ini, aku tak mau mati dulu, kalau aku belum menjadi penulis.

Aku ingin mati, kalau aku sudah menulis buku. Dan aku rela mati kapan pun, kalau aku sudah mewariskan buku pada anakku. Tentu, bukan buku-buku yang sudah kubaca. Tapi buku yang telah kutulis.

Maka hari ini kupancangkan lagi di tahun baru Hijriyah ini. Apa pun yang terjadi, harus bisa kumulai. Karena menulis adalah ibadahku. Adalah dakwahku. Dan harus kekerjakan, sebelum datangnya kematian. Agar namaku abadi. Menjadi kebanggaan anak-anakku, meski hanya dalam hati.

Hingga kalau aku mati, anak-anakku tak bingung lagi, akan menuliskan apa di nisanku nanti.

Bismillah.

Kategori:Profil
SEUWISE

Adam, Turun Dari Surga Langsung Ke Minang?

MENGENANG MINANG Kalau nanti ada waktu luang, ingin sekali ‘menggelandang’ di Minang. Meski dulu sudah pernah ke sana, tapi hati masih selalu merindu untuk mengulang. Rasanya perjalanan 8 hari itu, belum memuaskan hausku akan pesona Minang yang indah ‘takambang’. Perjalanan…
WACA
SEDURUNGE

Anakku, Kau Boleh Bangga, Atau Bahkan Kecewa Padaku!

KUKATAKAN YANG SEBENARNYA Sejak kecil, kita dilatih untuk berbohong. Tidak secara langsung, tentunya. Akhirnya kita belajar untuk mengatakan apa yang orang lain ingin dengar, dan kita bersikap sesuai dengan hal itu. Padahal konon, justru dengan mengatakan yang sebenarnya, akan menciptakan…
WACA
LIYANE

Dimana Wirasaba?

Nama Wirasaba sudah saya dengar sejak belia. Sejak pertama menyaksikan ketoprak tobong dengan lakon “Geger Wirasaba” yang dilanjut “Jaka Kaiman Winisuda”. Dulu, dua lakon itu digelar bergantian di balai desa kampungku. Hari pertama “Geger Wirasaba” yang mengisahkan kematian Adipati Wirasaba,…
WACA
LIYANE

Babad Banjoemas Wirjaatmadjan Karya Raden Aria Wirjaatmadja

Secara berkala saya akan memposting naskah Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Lengkap dengan terjemahan Bahasa Indonesia, agar para pembaca mudah memahaminya. Naskah Babad Banyumas Wirjaatmadjan aslinya ditulis dalam huruf Jawa. Naskah aslinya disimpan oleh menantunya, Raden Joedasoebrata. Sekarang naskah tersebut bisa disaksikan…
WACA
LIYANE

Babad Banyumas Wirjaatmadjan Banyumasan

Segera Terbit
WACA
LIYANE

Jelajah Sejarah Babad Banyumas

Pada waktu menulis pentalogi Serial Penangsang pijakan saya adalah naskah Babad Tanah Jawi. Maka, apa dan siapa yang dikisahkan dalam naskah Babad Tanah Jawi itu saya lacak jejaknya. Hingga datanglah saya ke Pajang, ke bekas kerajaan Joko Tingkir. Datang ke…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.