Mandirancan adalah nama desa di Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Letaknya berada di paling utara, dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Patikraja serta Kecamatan Banyumas. Di desa ini, tinggal sosok budayawan Banyumas bernama Nassirun Purwokartun atau yang kerap kali disebut Kang Nass.
Sebagai daerah asalnya, Kang Nass baru saja menghidupkan nama Mandirancan dengan diselenggarakannya Festival Babad Banyumas di sana. Festival ini merupakan kolaborasi dari upaya pelestarian seni, budaya, sejarah, hingga alam sekitar.
Festival Babad Banyumas diselenggarakan selama 3 hari, mulai dari Hari Jum’at (25/9/2026) sampai dengan Hari Minggu (27/9/2026). Adapun lokasinya, berada di tiga tempat berbeda di Desa Mandirancan.
Hari pertama bertempat di Bale Babad Banyumas, atau di komplek rumah Kang Nassirun di Jalan Kalibacin, Desa Mandirancan. Di sana, para peserta yang rata-rata siswa SD dan mahasiswa itu, diajak melihat pameran wayang dongeng, mendongeng Babad Banyumas, serta mewarnai Wayang Dongeng.

Adapun hari kedua, berlokasi di dua tempat berbeda. Pagi sampai siang hari kembali bertempat di Bale Babad Banyumas, adapun kegiatannya adalah menggambar Wayang babad, Pameran Wayang babad, dan Pameran Cover Babad. Sedangkan malamnya, bertempat di Lapangan Desa Mandirancan. Dan di sanalah puncak malam perayaan Festival Babad Banyumas dilaksanakan.
Di atas lapangan Mandirancan yang sedang mengering itu, pentas kolaborasi digemakan menghibur ribuan pengunjung. Yang dipentaskan bisa dibilang semuanya berbau seni budaya. Tapi terkhusus Wayangan Babad Banyumas dan Begalan, turut memberikan wawasan sejarah yang begitu kental.

Wayangan Babad Banyumas menceritakan bagaimana sejarah berdirinya Kabupaten Banyumas, mulai dari sejak masih bernama Wirasaba sampai ketika sudah berubah menjadi Banyumas. Sedangkan begalannya, bukan sekedar begalan yang sering ada di pesta pernikahan, tapi juga turut diceritakan terkait peristiwa Begalan yang terjadi saat pernikahan Ngabehi Janah dengan Rara Warsiki, yang sebelumnya juga turut dilakonkan dalam adegan pamungkas Wayangan Babad Banyumas.
“Semoga dengan pementasan Wayang Babad Banyumas, kisah-kisah leluhur Banyumas semakin tersebar. Tidak ada lagi orang yang tidak tahu cerita rakyat Banyumas, hanya karena tidak bisa membaca naskah Babad Banyumas. Cukup dengan menonton pementasan saja. Karena dalam kisah leluhur terdapat ajaran keluhuran yang bisa menjadi teladan,” ungkap Kang Nass.

Kemudian pasca malam puncak perayaan Babad Banyumas dan seni budaya dilaksanakan, tinggal perayaan pelestarian air yang dipertontonkan. Ki Dalang Ulum Karto Diwiryo yang malam Minggunya jadi dalang menceritakan berdirinya Banyumas, pada hari Minggu sore kembali bergema mendalangi pementasan wayang sandekala di Taman Kalimambu, Mandirancan.
Adapun tema yang diangkat dalam pentas menjelang maghrib itu adalah Babad Panggih Warih yang ditulis oleh Kang Nass. “Saya tulis Babad Panggih Warih sebagai sarana kampanye penyelamatan mata air. Saya pentaskan dalam Hari Air Dunia. Pementasan Wayangan Panggih Waris menjadi acara rutin ke depannya”, ungkap Kang Nass.
Di hari terakhir itu, selain nonton pagelaran wayang sandekala, para pengunjung juga diajak untuk melihat proses melukis Panggih Warih serta kembali mendengarkan alunan Gubrak Lesung Rebana. Dan sebagai penutup, dilaksanakanlah slametan bersama warga sekitar, sebagai bentuk rasa syukur.