Begalan Jaka Kahiman Sukses Membuat Gelak Tawa Ribuan Penonton Festival Babad Banyumas

October 1, 2026 ·

Salah satu acara paling menarik dan paling inti yang terselenggara dalam Festival Babad Banyumas 2026 adalah Begalan Jaka Kahiman. Kesenian ini dilakonkan oleh grup Begalan Cipto Kawedar pada malam puncak perayaan di Hari Sabtu, malam Minggu (26/9/2026).

Penautan nama Jaka Kahiman ini memang bukan tanpa sebab. Kang Nassirun Purwokartun sebagai inisiator penyelenggara, memang sengaja menceritakan kisah asal mula seni begalan yang ternyata muncul sejak era Jaka Kahiman.

“Salah satu tujuan utama penyelenggaraan Festival Babad Banyumas ini adalah untuk mengenalkan asal mula seni Begalan. Di mana setelah mendirikan Kadipaten Banyumas, tak lama kemudian Jaka Kahiman menikahkan anaknya, Ngabehi Janah dengan putri Ki Ageng Gumelem yang bernama Rara Warsiki”, ungkap Kang Nass.

Dalam malam perayaan tersebut, diceritakan bagaimana kisah berbesanannya pemimpin pertama Banyumas dengan pemimpin pertama Gumelem. Tapi pengisahan cerita masa lalu ini dilakukan dengan terobosan yang begitu menarik, yaitu dengan menggunakan media wayang.

Ki Ulum Karto Diwiryo yang dipercaya mendalangi Wayangan Babad Banyumas, menceritakan dengan cukup detail cerita yang ada di dalam Babad Banyumas. Dimulai dari pengangkatan Jaka Kahiman sebagai Adipati Wirasaba terakhir, dan dipamungkasi oleh cerita Ngabehi Janah yang kemudian menikah dengan Rara Warsiki.

Kemudian setelah pementasan Wayangan Babad Banyumas selesai, giliran aksi Begalan oleh grup Cipto Kawedar. Sesuai judul pementasannya yang berbunyi Begalan Jaka Kahiman, aksi begal sarat makna ini juga mengisahkan serta menggambarkan peristiwa begalan yang terjadi saat Jaka Kahiman mantu dulu.

Aksinya yang lucu blakasuta khas Banyumasan, menyebabkan gelak tawa dari ribuan penonton turut mewarnai jalannya begalan. Tapi tentu tak hanya menjunjung ciri khas lawakan, melainkan juga turut membawa pesan-pesan pernikahan, dengan ditambah pengetahuan tentang kesejarahan yang diselipkan.

Dalam malam puncak perayaan tersebut, selain Wayangan Babad Banyumas dan Begalan Jaka Kahiman, juga diisi dengan penampilan musik tradisional Banyumas. Di awal acara, Gubrak Lesung Rebana bergema, menunjukkan kolaborasi harmonis antara seni kaum agraris dengan seni kaum santri. Sedangkan sebagai pamungkasnya, Kenthongan Banyumasan bergema kencang dengan berbagai lagunya.

Perlu diketahui, Festival Babad Banyumas 2026 terselenggara selama tiga hari, yaitu sejak Hari Jum’at (25/9) sampai Hari Minggu (27/9), dengan berbagai acara yang berbau seni budaya.

Hari pertama bertempat di Bale Babad Banyumas, dengan esensi acara untuk pelestarian dongeng. Hari kedua dibagi menjadi dua waktu dan dua tempat. Pagi hari fokusnya untuk pelestarian babad yang bertempat di Bale Babad Banyumas, sedangkan malamnya bertempat di Lapangan Desa Mandirancan dan diisi dengan rangkaian acara pelestarian sejarah berbalut pelestarian seni budaya.

Dan untuk hari ketiga atau terakhirnya, bertempat di Taman Kalimambu Desa Mandirancan, dengan esensi acara untuk pelestarian mata air Kalimambu yang diisi dengan rangkaian gubrak lesung rebana, Melukis panggih warih, serta Wayangan Panggih Warih.

Kategori:Festival
SEUWISE

Menjemput Purnama Sembari Melihat Prosesi 'Jaka Kahiman Mantu'

Malam itu, bulan bersinar terang. Orang-orang sering menyebutnya dengan istilah Bulan Purnama. Bentuknya yang terlihat seperti lingkaran sempurna, menjadikannya nampak indah dipandang mata, menerangi berbagai aktivitas makhluk hidup di bumi pada malam hari. Dan bersamaan dengan sinar terang rembulan, di…
WACA
SEDURUNGE

Mandirancan Jadi Saksi Kemeriahan Festival Babad Banyumas 2026

Mandirancan adalah nama desa di Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Letaknya berada di paling utara, dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Patikraja serta Kecamatan Banyumas. Di desa ini, tinggal sosok budayawan Banyumas bernama Nassirun Purwokartun atau yang kerap kali disebut Kang Nass.…
WACA
LIYANE

Adam, Turun Dari Surga Langsung Ke Minang?

MENGENANG MINANG Kalau nanti ada waktu luang, ingin sekali ‘menggelandang’ di Minang. Meski dulu sudah pernah ke sana, tapi hati masih selalu merindu untuk mengulang. Rasanya perjalanan 8 hari itu, belum memuaskan hausku akan pesona Minang yang indah ‘takambang’. Perjalanan…
WACA
LIYANE

Ada Apa Dengan Babad Banyumas

Awalnya, buku ini ditulis dan dirancang sebagai paket lanjutan bagi para pembaca Babad Banyumas. Agar yang sudah membaca babadnya mendapat wawasan baru dari kisah yang sudah dibacanya. Namun, setelah jadi, ternyata bisa juga dibaca oleh mereka yang belum membaca Babad…
WACA
LIYANE

Siapa Yang Harus Menerbitkan Babad Banyumas?

“Kalau ada buku yang ingin kamu baca, tapi kamu tidak menemukannya, maka kamulah yang harus menuliskannya.” Begitulah ungkapan yang pernah saya dengar. Begitu pula yang kemudian saya lakukan dengan Babad Banyumas. Karena hampir 5 tahun tidak menemukan buku Babad Banyumas,…
WACA
LIYANE

Festival Babad Banyumas, Parkir Gratis, PKL Laris

Pada malam puncak perayaan Festival Babad Banyumas di Hari Sabtu (26/9), ribuan penonton membludak di Lapangan Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen. Entah dari mana serta dari kalangan mana saja yang datang, intinya mereka menyatu di bawah purnama yang bersinar terang. Dan…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.