Festival Babad Banyumas, Parkir Gratis, PKL Laris

October 9, 2026 ·

Pada malam puncak perayaan Festival Babad Banyumas di Hari Sabtu (26/9), ribuan penonton membludak di Lapangan Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen. Entah dari mana serta dari kalangan mana saja yang datang, intinya mereka menyatu di bawah purnama yang bersinar terang.

Dan biasanya, adanya tontonan atau hiburan, juga jadi ajang mencari keuntungan bagi penyelenggara serta warga setempat, melalui tarikan retribusi. Tapi tidak dengan Festival Babad Banyumas 2026.

Pagelaran seni yang diinisiatori oleh Kang Nassirun Purwokartun ini, justru bisa dikatakan sebagai tempat yang didesain untuk bagaimana membuat masyarakat menjadi senang. Dari yang biasanya penonton ditarik uang parkir/retribusi, di sana digratiskan. Begitupun dengan para pedagang kaki lima yang bebas berjualan tanpa ada tarikan.

“Selama ini, setiap acara di lapangan atau alun-alun selalu ada tarikan parkir bagi pengunjung, dan retribusi bagi PKL. Saya ingin membuat semua pengunjung senang, bahagia, parkir digratiskan, tapi tetap ada petugasnya. Saya tidak mendapatkan uang parkir, justru saya membayar beberapa orang untuk menjadi petugas parkir. Begitupun dengan para pedagang yang juga tidak ditarik dana kebersihan”, ujar Kang Nass.

Artinya, penyelenggaraan Festival Babad Banyumas 2026, khususnya di malam puncak perayaan, benar-benar menjadi tempat hiburan yang membuat orang senang. Penonton senang bisa datang tanpa adanya tarikan parkir. Begitupun dengan penjual, yang bebas berjualan. Singkatnya, mereka datang dan pulang tanpa raut beban.

Perlu diketahui, penyelenggaraan Festival Babad Banyumas 2026, sejatinya tidak hanya hiburan yang tanpa pembelajaran. Justru, acara yang berlangsung selama tiga hari ini, esensinya adalah untuk pelestarian sejarah, budaya, hingga alam, namun dikemas lebih menarik dengan berbalut seni.

Pada malam puncak perayaan misalnya. Para pengunjung diajak untuk melihat pentas kolaborasi dari berbagai pelaku seni terkenal, yang di dalamnya turut diselipkan sejarah sebagai bentuk pelestarian. Sehingga, sejarah yang kerap kali malas dipelajari banyak orang, justru bisa menjadikan mereka senang karena media penyampaiannya dikemas dengan lebih menarik.

Dan jika banyak orang yang senang, maka tentu semakin banyak pula yang datang berkunjung. Ini juga  menjadikan ekonomi di tingkat bawah menjadi lebih hidup, yang sejalan dengan tujuan Kang Nass atas penyelenggaraan Festival Babad Banyumas ini.

“Saya ingin acara kesenian bisa menjadi mesin penggerak ekonomi di tingkat bawah. Hingga saya ingin pedagang bisa berdatang dengan gratis, tanpa ditarik retribusi. Saya justru membayar orang untuk menjaga kebersihan lapangan. Semoga dengan seringnya acara bisa membuat para pedagang senang. Terbukti, semua pedagang laris ualannya”, ujar Kang Nass. []

SEUWISE

Shalat Ashar Berjamaah di Tengah Hutan Sebelum Panggih Warih

Acara berbau kebudayaan, seringkali seperti air dan minyak, tidak bisa bersatu. Ketika acara kebudayaan sedang berlangsung, biasanya ritual keagamaan pun turut ditinggalkan. Maka, banyak orang yang suka seni budaya, tapi tidak suka agama. Begitupun orang yang suka agama, tapi tidak…
WACA
LIYANE

Adipati Mrapat

Sebagai Adipati Wirasaba, Raden Jaka Kaiman bergelar Adipati Warga Utama II. Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat. Karena dengan berbesar hati telah membagi empat (mara papat) wilayah Wirasaba. Keberaniannya dalam mengambil keputusan di saat yang sulit serta niat…
WACA
LIYANE

Mengenalkan Babad Banyumas Dengan Gubrag Lesung

Bale Babad Banyumas adalah sanggar seni milik budayawan Banyumas, NasSirun PurwOkartun. Tempat Kang Nass, begitu biasa disapa, menyebarkan kisah-kisah Babad Banyumas. Sejak tahun 2015, Kang Nass mengumpulkan naskah-naskah Babad Banyumas. Ternyata, kebanyakan ditulis dalam tembang Macapat. Karena ingin mengetahui isinya,…
WACA
LIYANE

Jembatani Masa Lalu dan Kini, NasSirun Terjemahkan Babad untuk Generasi Muda

BANYUMAS, banyumas.suaramerdeka.com - Sebagian besar naskah babad ditulis dalam bahasa Jawa. Tidak banyak masyarakat modern yang mampu membaca karya klasik yang berisi catatan sejarah, riwayat dan silsilah leluhur ini. Hal itu menggerakkan Nasirun, penulis buku, penerjemah, sekaligus pegiat literasi untuk…
WACA
LIYANE

Dari Wirasaba Ke Banyumas

Awalnya, buku ini ditulis dan dirancang sebagai paket lanjutan bagi para pembaca Babad Banyumas. Agar yang sudah membaca babadnya mendapat wawasan baru dari kisah yang sudah dibacanya. Namun, setelah jadi, ternyata bisa juga dibaca oleh mereka yang belum membaca Babad…
WACA
LIYANE

Bagus Mangun Menjadi Abdi Dalem Wirasaba dalam Babad Banyumas Mertadiredjan

Setelah mengisahkan tentang Kadipaten Wirasaba sebagai bawahan Kesultanan Demak, Babad Banyumas kemudian melanjutkan kisah tentang Bagus Mangun. Siapa Bagus Mangun? Ia adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh keluarga bibinya, Nyai Mranggi. Sang bibi menikah dengan pembuat warangka keris, Kyai…
WACA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Babad Banyumas - Rujukan Utama Sejarah Banyumas.