Malam itu, bulan bersinar terang. Orang-orang sering menyebutnya dengan istilah Bulan Purnama. Bentuknya yang terlihat seperti lingkaran sempurna, menjadikannya nampak indah dipandang mata, menerangi berbagai aktivitas makhluk hidup di bumi pada malam hari.
Dan bersamaan dengan sinar terang rembulan, di bumi Mandirancan ternyata diselenggarakan malam puncak perayaan Festival Babad Banyumas 2026. Malam itu, seakan semesta begitu merestui dipertontonkannya ‘film’ Jaka Kahiman Mantu dan Sejarah berdirinya Banyumas, di depan khalayak masyarakat luas.
Malam puncak perayaan itu memang sebagai ajang mengingat masa lalu berupa kisah mantunya Jaka Kahiman, dalam bentuk kesenian begalan. Kemudian juga menayangkan bagaimana sejarah berdirinya Banyumas yang direkakan dalam media wayang oleh Ki Ulum Karto Diwiryo, seorang dalang muda asal Sumpiuh.

Menurut Kang Nass, Begalan sengaja dipilih sebagai penampilan inti, karena beliau ingin mengenakan masyarakat terkait asal mula kesenian Begalan. “Salah satu tujuan penyelenggaraan Festival Babad Banyumas ini adalah untuk mengenakan asal mula Begalan. Di mana setelah mendirikan Kadipaten Banyumas, tak lama Jaka Kahiman kemudian menikahkan anaknya Ngabehi Janah dengan Rara Warsiki, putri Ki Ageng Gumelem”, ujar Kang Nass.
Pelestarian sejarah dalam bentuk kesenian itu juga ditemani oleh dua kesenian lokal Banyumasan yang tak kalah menarik. Ada Gubrak Lesung Rebana dari grup Pangastuti, yang merupakan kolaborasi antara seni kaum agraris dengan seni kaum santri. Kemudian ada juga penampilan kenthongan dari grup bambu nada, yang merupakan juara Festival Kenthongan Banyumas 2026.
Perlu diketahui, malam puncak perayaan itu adalah bagian dari Festival Babad Banyumas yang diselenggarakan oleh Kang Nassirun Purwokartun, penulis 101 serial Babad Banyumas, pimpinan Bale Babad Banyumas di bawah naungan Yayasan Bale Pustaka Cahaya.
Festival ini diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, sejak hari Jum’at (25/9/2026) sampai Minggu (27/9/2026). Untuk hari jum’at bertempat di Bale Babad Banyumas, dengan fokus utamanya adalah pelestarian dongeng. Adapun rangkaian acaranya ada menggambar Wayang dongeng, mendongeng Babad Banyumas dan Pameran Wayang Dongeng.
Kemudian di hari kedua dibagi atas dua rangkaian acara. Paginya bertempat di Bale Babad Banyumas dengan inti acara pelestarian babad. Adapun rangkaian acaranya adalah menggambar Wayang babad, Pameran Wayang babad, dan Pameran cover babad.

Sedangkan Sabtu malamnya, merupakan puncak perayaan yang di awal tadi sudah disebutkan. Yang isinya merupakan kolaborasi 4 seni tradisional, yakni gubrak lesung rebana, begalan Jaka Kahiman, Wayangan Babad Banyumas, serta kenthongan.
Kemudian yang tak kalah menarik dalam rangkaian Festival Babad Banyumas 2026 ini adalah Pentas Wayang Methuk Sandekala pada Minggu sore (27/9/2026), oleh Ki Dalang Ulum Karto Diwiryo. Pagelaran wayang ini menceritakan Babad Panggih Warih, sebuah cerita yang dibuat oleh Kang Nass dalam upaya kampanye pelestarian mata air Kalimambu yang ada di Desa Mandirancan.
Dan uniknya, setelah ndalang Ki Ulum melompat ke dalam Kedung Bunder. Aksinya ini merupakan ciri khasnya yang menjadikan dalang muda ini dijuluki sebagai Dhalang Nyemplung Kedung.